air tanah


Airtanah? Apa dan Bagaimana Mencarinya?

Agustus 24, 2006 at 12:23 am
| In

Dongeng Geologi
|

 coordsize=”21600,21600″ o:spt=”75″ o:preferrelative=”t” path=”m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe”
 filled=”f” stroked=”f”>
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 style=’position:absolute;margin-left:0;margin-top:0;width:66pt;height:93.75pt;
 z-index:1;mso-wrap-distance-left:3.75pt;mso-wrap-distance-top:3.75pt;
 mso-wrap-distance-right:3.75pt;mso-wrap-distance-bottom:3.75pt;
 mso-position-vertical-relative:line;float:left’ o:allowoverlap=”f”>
 
Seorang
kawan (Rachmat Fajar Lubis) yg sedang berada di Jepang, bukan belajar gempa
tetapi tentang air tanah. Ya, belajar tentang air tanah. mengapa ? Karena air
akan menjadi bahan komoditi ketika nanti kita kesulitan mencari air tawar dan
air baku untuk kehidupan sehari-hari. Pak Fajar ini mempelajari pengelolaan air
tanah, beliau bekerja di Indonesia sebagai ahli air tanah di Direktorat
Geolog
i Geotek LIPI, Bandung. Pak Fajar saat ini berada di Chiba, Jepang
dalam rangka Joint Research.

Berikut tulisan sekelumit beliau tentang air tanah.


Airtanah? Apa dan Bagaimana Mencarinya?


Rachmat Fajar Lubis

Pertanyaan diatas seringkali muncul ketika sumber air yang kita gunakan
selama ini seperti air sungai, danau atau air hujan tidak bisa kita dapatkan.
Satu hal yang pasti ini adalah salahsatu jenis air juga.

Hanya dikarenakan jenis air ini tidak terlihat secara langsung, banyak
kesalahfahaman dalam masalah ini. Banyak orang secara umum menganggap airtanah
itu sebagai suatu danau atau sungai yang mengalir di bawah tanah. Padahal, hanya
dalam kasus dimana suatu daerah yang memiliki gua dibawah tanahlah kondisi ini
adalah benar. Secara umum airtanah akan mengalir sangat perlahan melalui suatu
celah yang sangat kecil dan atau melalui butiran antar batuan

 <v:shape
 id=”_x0000_s1026″ type=”#_x0000_t75″ alt=”air-tanah-1.jpg” style=’width:331.5pt;
 height:81.75pt’>
 
</v:shape

(Model aliran airtanah melewati
rekahan dan butir batuan)

Batuan yang mampu menyimpan dan mengalirkan airtanah ini kita sebut dengan
akifer. Bagaimana interaksi kita dalam penggunaan airtanah? Yang alami adalah
dengan mengambil airtanah yang muncul di permukaan sebagai mataair atau secara
buatan. Untuk pengambilan airtanah secara buatan, mungkin analogi yang baik
adalah apabila kita memegang suatu gelas yang berisi air dan es. Apabila kita
masukkan sedotan, maka akan terlihat bahwa air yang berada di dalam sedotan akan
sama dengan tinggi air di gelas. Ketika kita menghisap air dalam gelas tersebut
terus menerus pada akhirnya kita akan menghisap udara, apabila kita masih ingin
menghisap air yang tersimpan diantara es maka kita harus menghisapnya lebih
keras atau mengubah posisi sedotan. Nah konsep ini hampirlah sama dengan teknis
pengambilan airtanah dalam lapisan akifer (dalam hal ini diwakili oleh es batu)
dengan menggunakan pompa (diwakili oleh sedotan)

Hal yang menarik, jika kita tutup permukaan sedotan maka akan terlihat bahwa
muka air di dalam sedotan akan berbeda dengan muka air didalam gelas. Perbedaan
ini akan mengakibatkan pergerakan air. Sama dengan analog ini, airtanahpun akan
bergerak dari tekanan tinggi menuju ke tekanan rendah. Perbedaan tekanan ini
secara umum diakibatkan oleh gaya gravitasi (perbedaan ketinggian antara daerah
pegunungan dengan permukaan laut), adanya lapisan penutup yang impermeabel
diatas lapisan akifer, gaya lainnya yang diakibatkan oleh pola struktur batuan
atau fenomena lainnya yang ada di bawah permukaan tanah. Pergerakan ini secara
umum disebut gradien aliran airtanah (potentiometrik). Secara alamiah pola
gradien ini dapat ditentukan dengan menarik kesamaan muka airtanah yang berada
dalam satu sistem aliran airtanah yang sama.

Mengapa pergerakan atau aliran airtanah ini menjadi penting? Karena disinilah
kunci dari penentuan suatu daerah kaya dengan airtanah atau tidak. Perlu
dicatat : tidak seluruh daerah memiliki potensi airtanah alami yang baik
.

Model aliran airtanah itu sendiri akan dimulai pada daerah resapan airtanah
atau sering juga disebut sebagai daerah imbuhan airtanah (recharge zone).
Daerah ini adalah wilayah dimana air yang berada di permukaan tanah baik air
hujan ataupun air permukaan mengalami proses penyusupan (infiltrasi) secara
gravitasi melalui lubang pori tanah/batuan atau celah/rekahan pada tanah/batuan.<v:shape
 id=”_x0000_s1027″ type=”#_x0000_t75″ alt=”air-tanah-2.jpg” style=’width:24pt;
 height:24pt’/></v:shape
<v:shape

(Model siklus hidrologi,
dimodifikasi dari konsep Gunung Merapi-GunungKidul)

Proses penyusupan ini akan berakumulasi pada satu titik dimana air tersebut
menemui suatu lapisan atau struktur
batuan yang bersifat kedap air (impermeabel). Titik akumulasi ini akan
membentuk suatu zona jenuh air (saturated zone) yang seringkali disebut
sebagai daerah luahan airtanah (discharge zone). Perbedaan kondisi
fisik secara alami akan mengakibatkan air dalam zonasi ini akan
bergerak/mengalir baik secara gravitasi, perbedaan tekanan, kontrol struktur
batuan dan parameter lainnya. Kondisi inilah yang disebut sebagai aliran
airtanah. Daerah aliran airtanah ini selanjutnya disebut sebagai daerah aliran (flow
zone
).

Dalam perjalananya aliran airtanah ini seringkali melewati suatu lapisan
akifer yang diatasnya memiliki lapisan penutup yang bersifat kedap air
(impermeabel) hal ini mengakibatkan perubahan tekanan antara airtanah yang
berada di bawah lapisan penutup dan airtanah yang berada diatasnya. Perubahan
tekanan inilah yang didefinisikan sebagai airtanah tertekan (confined
aquifer)
dan airtanah bebas (unconfined aquifer). Dalam kehidupan
sehari-hari pola pemanfaatan airtanah bebas sering kita lihat dalam penggunaan
sumur gali oleh penduduk, sedangkan airtanah tertekan dalam sumur bor yang
sebelumnya telah menembus lapisan penutupnya.

Airtanah bebas (water table)
memiliki karakter berfluktuasi terhadap iklim sekitar, mudah tercemar dan
cenderung memiliki kesamaan karakter kimia dengan air hujan. Kemudahannya untuk
didapatkan membuat kecenderungan disebut sebagai airtanah dangkal (Padahal
dangkal atau dalam itu sangat relatif lho).

Airtanah tertekan/ airtanah terhalang inilah yang seringkali disebut sebagai
air sumur artesis (artesian well). Pola pergerakannya yang menghasilkan
gradient potensial, mengakibatkan adanya istilah artesis positif ; kejadian
dimana potensial airtanah ini berada diatas permukaan tanah sehingga airtanah
akan mengalir vertikal secara alami menuju kestimbangan garis potensial khayal
ini. Artesis nol ; kejadian dimana garis potensial khayal ini sama dengan
permukaan tanah sehingga muka airtanah akan sama dengan muka tanah. Terakhir
artesis negatif ; kejadian dimana garis potensial khayal ini dibawah permukaan
tanah sehingga muka airtanah akan berada di bawah permukaan tanah..<v:shape
 id=”_x0000_s1028″ type=”#_x0000_t75″ alt=”profilairtanah.jpg”
 href=”http://rovicky.files.wordpress.com/2006/08/profil-airtanah.jpg” mce_href=”http://rovicky.files.wordpress.com/2006/08/profil-airtanah.jpg” title=””Klick utk memperbesar””
 style=’width:24pt;height:24pt’ o:button=”t”/></v:shape
<v:shape
Jadi, kalau tukang sumur bilang bahwa dia akan membuat sumur artesis, itu
artinya dia akan mencari airtanah tertekan/airtanah terhalang ini.. belum tentu
airnya akan muncrat dari tanah ;p

Lalu airtanah mana yang akan dicari?

Itulah yang pertama kali harus kita tentukan. Tiap jenis airtanah memerlukan
metode pencarian yang spesifik. Tapi secara umum bisa kita bagi menjadi :

Metode berdasarkan aspek fisika (Hidrogeofisika) : Penekanannya pada
aspek fisik yaitu merekonstruksi pola sebaran lapisan akuifer. Beberapa metode
yang sudah umum kita dengar dalam metode ini adalah pengukuran geolistrik yang
meliputi pengukuran tahanan jenis, induce polarisation (IP) dan
lain-lain. Pengukuran lainnya adalah dengan menggunakan sesimik, gaya berat dan
banyak lagi.

Metode berdasarkan aspek kimia (Hidrogeokimia) : Penekanannya pada
aspek kimia yaitu mencoba merunut pola pergerakan airtanah. Secara teori ketika
air melewati suatu media, maka air ini akan melarutkan komponen yang
dilewatinya. Sebagai contoh air yang telah lama mengalir di bawah permukaan
tanah akan memiliki kandungan mineral yang berasal dari batuan yang dilewatinya
secara melimpah.

Metode manakah yang terbaik?

Kombinasi dari kedua metode ini akan saling melengkapi dan akan memudahkan
kita untuk mengetahui lebih lengkap mengenai informasi keberadaan airtanah di
daerah kita.

Selamat mencari airtanah… untuk kehidupan yang lebih baik.

Chiba, 23 Agustus 2006

 

</v:shape
</v:shape


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: