bermalam di hutan ceria


Bermalam di hutan

 coordsize=”21600,21600″ o:spt=”75″ o:preferrelative=”t” path=”m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe”
 filled=”f” stroked=”f”>
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 
Matahari mulai terbenam
  ketika Pak Reo sedang membereskan peralatan pancingnya. Singa jantan yang
  rajin itu telah menghabiskan waktu seharian dengan memancing di telaga yang
  terletak di tengah hutan. “Ikan ini begitu besar!,

 
  Reno, anakku pasti senang!” seru Pak Reo gembira.

 
  “Lihat Reno! Ayah dapat ikan besar!” teriak Bu Reo, yang sedang menggiring
  itik ke kandang. “Wow besar sekali ikannya!” teriak Reno kegirangan. Singa
  kecil itu memang suka sekali makan ikan. Ibu segera membawa ikan ke dapur
  untuk dimasak.

 
  “Ah, andai aku juga bisa memancing ikan sendiri,”pikir Reno. Tanpa
  sepengetahuan orangtuanya, Reno segera mengambil peralatan pancing ayahnya.
  “Kalau ayah bisa mendapat ikan besar, mengapa aku tidak?” kata Reno pada
  dirinya sendiri. Lalu ia pergi menuju telaga di hutan, walaupun belum tahu
  tempatnya. Di tengah perjalanan, Reno bertemu dengan Paman Kambing yang
  sedang asyik memetik mangga di pinggir jalan. “Hallo Reno, sore-sore mau
  pergi ke mana?” sapa Paman Kambing ramah. Tapi Reno hanya menundukkan kepala
  dan tidak menjawab sapaan Paman Kambing. “Huh, tidak sopan!” gerutu Paman
  Kambing kesal.

 
  “Disapa baik-baik, kok diam saja. Tersenyum pun tidak! Benar-benar
  keterlaluan!”

 
  Hari semakin gelap. Tapi Reno terus berjalan. Yang dipikirkannya hanya ikan
  dan ikan. “Wow, pasti asyik kalau dapat mancing ikan yang lebih besar dari
  milik ayah,” pikir Reno. Sementara itu, kedua orangtua Reno belum mengetahui
  bahwa anaknya telah pergi meninggalkan rumah. “Reno di mana, Bu?” tanya pak
  Reo. Istrinya yang sedang memasak ikan terkejut. “Lho, bukankah tadi bersama
  Ayah?” Bu Reo balik bertanya. “Tidak,” jawab Pak Reno sambil menggelengkan
  kepala.

 
  “Aduh, di mana si Reno? Hari sudah malam, tidak seharusnya ia bermain di
  luar rumah.” Singa betina itu bingung memikirkan anak kesayangannya.
  “Sudahlah, Bu,” kata Pak Reo menenangkan. “Lebih baik kita segera
  mencarinya. Lagipula, Reno sudah besar. Nanti pasti pulang sendiri.”
 

<v:shape
 id=”_x0000_s1026″ type=”#_x0000_t75″ alt=”” style=’position:absolute;
 margin-left:-90pt;margin-top:-519pt;width:112.5pt;height:107.25pt;z-index:2;
 mso-wrap-distance-left:0;mso-wrap-distance-right:0;
 mso-position-vertical-relative:line’ o:allowoverlap=”f”>
 
</v:shape
Bagaimana
  nasib Reno?

 
  Kasihan anak singa itu tersesat di tengah hutan. Dia tidak tahu jalan ke
  arah telaga. “Letak telaga di mana sih?” pikir Reno bingung. “Aduh, sudah
  malam dan gelap lagi. Aku di mana sekarang?” Ternyata binatang malang itu
  kini berada di bagian hutan yang belum pernah dijelajahinya. Reno takut
  sekali. Dia mulai menyesali perbuatannya. “Ah, kalau saja aku tadi bertanya
  ke Paman Kambing, mungkin aku tak akan tersesat.”

 
  Malam semakin larut. Yang terdengar hanya bunyi jangkrik yang bernyanyi di
  kesunyian malam. Reno semakin takut dan bingung. Kakinya terasa
<v:shape
 id=”_x0000_s1027″ type=”#_x0000_t75″ alt=”” style=’position:absolute;
 margin-left:-90pt;margin-top:-616.5pt;width:112.5pt;height:107.25pt;z-index:3;
 mso-wrap-distance-left:0;mso-wrap-distance-right:0;
 mso-position-horizontal-relative:text;mso-position-vertical-relative:line’
 o:allowoverlap=”f”>
 
</v:shape
pegal.
  Dan perutnya keroncongan karena lapar. “Klepak! Klepak! Klepak!” tiba-tiba
  terdengar suara kepakan sayap. Reno terkejut sekali. Dia mendongakkan
  kepalanya. Oh, ternyata ada seekor burung yang hinggap di atas pohon, tak
  jauh dari tempatnya berdiri. “Apakah kau bernama Reno, anak Pak Reo?” Tanya
  burung itu. “Sepertinya kita pernah bertemu kan?” Reno merasa lega, karena
  tak lagi sendirian di hutan. Singa kecil itu lalu menerangkan apa yang
  dialaminya. “Hmm, sebaiknya kau bermalam saja di hutan,” saran si burung.
  “Tapi jangan khawatir. Aku akan menemanimu tidur malam ini. Dan besok, kau
  pasti kuantar pulang.” Akhirnya anak singa itu tertidur di bawah pohon
  dengan beralas dedaunan.

 
  Di rumah, Pak Reo dan istrinya masih bingung dimana harus mencari anak
  kesayangannya. Mereka telah mencari ke mana-mana tapi belum juga ketemu.
  “Bagaimana ini, Yah? Reno belum kembali,” kata Bu Reo dengan sedih. “Reno,
  pulanglah Nak. Ibu sayang padamu.” Pak Reo berusaha menenangkan
  istrinya.”Sudahlah, Bu. Kita tak mungkin mencari Reno saat gelap begini.
  Semoga besok Reno bisa pulang dengan selamat.”

<v:shape
 id=”_x0000_s1028″ type=”#_x0000_t75″ alt=”” style=’position:absolute;
 margin-left:-90pt;margin-top:-201pt;width:112.5pt;height:105pt;z-index:4;
 mso-wrap-distance-left:0;mso-wrap-distance-right:0;
 mso-position-vertical-relative:line’ o:allowoverlap=”f”>
 
</v:shape
Pak
  Reo menutup pintu dan jendela rumah, lalu keduanya berdoa bersama dan
  menunggu datangnya pagi dengan berbaring di depan perapian. Dalam tidurnya
  di tengah hutan, Reno bermimpi bertemu dengan seorang kakek. Orang tua itu
  terlihat pintar dan bijaksana. “Reno cucuku,” suara kakek itu terdengar
  lembut. “Tahukah apa yang kau lakukan? Kau begitu egois, hanya memikirkan
  dirimu sendiri. Pertama, kau pergi meninggalkan rumah tanpa pamit. Kedua,
  kau tidak sopan karena tidak peduli pada binatang lain yang menyapamu. Dan
  ketiga, kau malu bertanya hingga tersesat di tengah hutan. Itu tidak baik,
  cucuku, kau harus mengubah sifat-sifatmu yang buruk itu.”

 
  “Kukuruyuk! Kukuruyuk!” sayup-sayup terdengar suara ayam jantan berkokok.
  “Cicit cuwit…! Cicit cuwit…!” suara kicau burung saling bersahutan,
  menyambut datangnya pagi hari. Reno terbangun mendengar kicauan merdu itu.
  “Ah, nyenyak sekali tidurku,” kata Reno sambil meregangkan kaki dan
  badannya. “Tapi semalam aku mimpi bertemu dengan seorang kakek.” Singa kecil
  itu kembali berbaring sambil memikirkan mimpinya. “Hmm, apa yang dikatakan
  kakek itu memang benar,” kata Reno pada dirinya sendiri.

 
  “Betapa buruknya kelakuanku. Aku egois, hanya memikirkan diri sendiri. Aku
  begitu ingin mendapatkan ikan besar, sampai melupakan segalanya. Aku harus
  mengubah sikapku yang jelek ini.”

<v:shape
 id=”_x0000_s1029″ type=”#_x0000_t75″ alt=”” style=’position:absolute;
 margin-left:-90pt;margin-top:-494.25pt;width:112.5pt;height:106.5pt;z-index:5;
 mso-wrap-distance-left:0;mso-wrap-distance-right:0;
 mso-position-vertical-relative:line’ o:allowoverlap=”f”>
 
</v:shape
“Selamat
  pagi, Reno,” sapa burung yang tidur di atas pohon. “Oh, selamat pagi,
  Burung,” sahut Reno terkejut. Reno segera bangkit berdiri. “Sudah siap untuk
  pulang? Ayo, kuantar kau pulang.” Burung yang baik hati itu terbang
  mengepakkan sayapnya. Reno berlari-lari mengikuti di bawahnya. Betapa senang
  hatinya! Beberapa ekor burung turut terbang mengikuti mereka.
  Binatang-binatang hutan yang melihat rombongan itu tertarik. Mereka lalu
  berlari mengikuti Reno dan teman-temannya.

 
  “Itu rumahmu, Reno!” teriak si burung sambil menunjuk dengan sayapnya.
 
<v:shape
 id=”_x0000_s1030″ type=”#_x0000_t75″ alt=”” style=’position:absolute;
 margin-left:-90pt;margin-top:-591.75pt;width:112.5pt;height:105pt;z-index:6;
 mso-wrap-distance-left:0;mso-wrap-distance-right:0;
 mso-position-horizontal-relative:text;mso-position-vertical-relative:line’
 o:allowoverlap=”f”>
 
</v:shape
Singa kecil itu berlari
  mendahului teman-temannya. Ternyata orangtua

 
  Reno sudah menunggu di depan rumah. “Oh, Reno anakku saying,” kata Bu Reo
  gembira sambil memeluk anaknya. “Maafkan Reno, Bu,” jawab

  Reno
  dengan nada menyesal. “
Reno
  telah menyusahkan Ayah dan Ibu.” “Benar kan Bu omonganku. Anak kita pasti
  kembali!” kata Pak Reo gembira. “Hei kalian teman main

  Reno,
  ya? Ayo masuk dulu, kalian pasti lapar.” kata bu Reo. Sebagai tanda
  terimakasih, Bu Reo menjamu binatang-binatang itu dengan memasak makanan
  yang lezat.


 
  Pesan moral :

  Janganlah bersikap egois dan tidak mempedulikan lingkungkan sekitar, karena
  akan merugikan diri kita sendiri.

 
  Sumber : Serial Fabel

  Indonesia,
 
  Elexmedia

 



 

TUKANG SEPATU DAN LILIPUT

<v:shape
 id=”_x0000_s1031″ type=”#_x0000_t75″ alt=”” style=’position:absolute;
 margin-left:0;margin-top:0;width:24pt;height:24pt;z-index:7;
 mso-wrap-distance-left:0;mso-wrap-distance-right:0;
 mso-position-vertical-relative:line;float:left’ o:allowoverlap=”f”/>Dahulu
kala, disebuah kota tinggal seorang Kakek dan Nenek pembuat sepatu. Mereka
sangat baik hati. Si kakek yang membuat sepatu sedangkan nenek yang menjualnya.
Uang yang didapat dari setiap sepatu yang terjual selalu dibelikan makanan yang
banyak untuk dibagikan dan disantap oleh orang-orang jompo yang miskin dan anak
kecil yang sudah tidak mempunyai orangtua. Karena itu walau sudah membanting
tulang, uang mereka selalu habis. Karena uang mereka sudah habis, dengan kulit
bahan sepatu yang tersisa, kakek membuat sepatu berwarna merah.

Kakek berkata
kepada nenek, “Kalau sepatu ini terjual, kita bisa membeli makanan untuk Hari
Raya nanti.
</v:shape
<v:shape

Tak lama setelah
itu, lewatlah seorang gadis kecil yang tak bersepatu di depan toko mereka.
“Kasihan sekali gadis itu ! Ditengah cuaca dingin seperti ini tidak bersepatu”.
Akhirnya mereka memberikan sepatu berwarna merah tersebut kepada gadis kecil
itu.

“Apa boleh buat,
Tuhan pasti akan menolong kita”, kata si kakek. Malam tiba, merekapun tertidur
dengan nyenyaknya. Saat itu terjadi kejadian aneh. Dari hutan muncul
kurcaci-kurcaci mengangkut kulit sepatu, membawanya ke rumah si kakek kemudian
membuatnya menjadi sepasang sepatu yang sangat bagus. Ketika sudah selesai
mereka kembali ke hutan.

<v:shape
 id=”_x0000_s1032″ type=”#_x0000_t75″ alt=”” style=’position:absolute;
 margin-left:-15.75pt;margin-top:0;width:24pt;height:24pt;z-index:8;
 mso-wrap-distance-left:0;mso-wrap-distance-right:0;
 mso-position-vertical-relative:line;float:right’ o:allowoverlap=”f”/>Keesokan
paginya kakek sangat terkejut melihat ada sepasang sepatu yang sangat hebat.
Sepatu itu terjual dengan harga mahal. Dengan hasil penjualan sepatu itu mereka
menyiapkan makanan dan banyak hadiah untuk dibagikan kepada anak-anak kecil pada

Hari
Raya.
“Ini semua rahmat dari Yang Maha Kuasa”. 
</v:shape
<v:shape

Malam berikutnya,
terdengar suara-suara diruang kerja kakek. Kakek dan nenek lalu mengintip, dan
melihat para kurcaci yang tidak mengenakan pakaian sedang membuat sepatu. “Wow”,
pekik si kakek. “Ternyata yang membuatkan sepatu untuk kita adalah para kurcaci
itu”. “Mereka pasti kedinginan karena tidak mengenakan pakaian”, lanjut si
nenek. “Aku akan membuatkan pakaian untuk mereka sebagai tanda terima kasih”.
Kemudian nenek memotongh kain, dan membuatkan baju untuk para kurcaci itu.
Sedangkan kakek tidak tinggal diam. Ia pun membuatkan sepatu-sepatu mungil untup
para kurcaci. Setelah selesai mereka menjajarkan sepatu dan aju para kurcaci di
ruang kerjanya. Mereka juga menata meja makan, menyiapkan makanan dan  kue yang
lezat di atas meja.

<v:shape
 id=”_x0000_s1033″ type=”#_x0000_t75″ alt=”” style=’position:absolute;
 margin-left:0;margin-top:0;width:24pt;height:24pt;z-index:9;
 mso-wrap-distance-left:0;mso-wrap-distance-right:0;
 mso-position-vertical-relative:line;float:left’ o:allowoverlap=”f”/>Saat
tengah malam, para kurcaci berdatangan.

Betapa
terkejutnya mereka melihat begitu banyaknya makanan dan hadiah  di ruang kerja
kakek. “Wow, pakaian yang indah !”. Merek segera mengenakan pakaian dan sepatu
yang sengaja telah disiapkan kakek dan nenek. Setelah selesai menyantap makanan,
mereka menari-nari dengan riang gembira. Hari-hari berikutnya para kurcaci tidak
pernah dating kembali.
</v:shape
<v:shape

Tetapi sejak saat
itu, sepatu-sepatu yang dibuat Kakek selalu laris terjual. Sehingga walaupun
mereka selalu memberikan makan kepada orang-orang miskin dan anak yatim piatu,
uang mereka masih tersisa untuk ditabung. Setelah kejadian itu semua, Kakek dan
dan nenek hidup bahagia sampai akhir hayat mereka.

</v:shape
</v:shape
</v:shape


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: